Untuk rembulan malam ini

  • 0
Malam yang memesona, jalur khatulistiwa senja sedang tepat berada di malam ini, mungkin. Sehingga panas, hujan, menjadi bumbu sedap.
Memang sering terulang-ulang cahaya bulan itu, tapi setiap kedatangannya selalu tatkala malam yang dingin. Sampai aku merasakan hangatnya malam dalam dekapan rembulan itu.
Rembulan selalu ditunggu kedatangannya, keistimewaannya menuai kekhasan malam.
Entah kemana hendak aku membawa tulisan ini, tapi yang pasti malam ini aku mendapatkan cahaya malam. Yang menembus jantung berkali-kali dan bereaksi beredar bersama darah yang mengalir : semoga.
Semua itu karena kau harus mengisi kertas-kertas kosong dalam tempat yang terang dan semesta yang berwarna. Mungkin dengan secercah cahaya rembulan yang menyelinap dalam gelap, setidaknya ada wajah yang nampak.
Rembulan menemaniku menikmati gelap, bercerita dengan nada-nada jenaka. Dia bercerita tentang siang, tentang sore, tentang senja, tentang pagi dan tentang malam. Serta tentang panas, hujan, kemarau, musim gugur, serta apa saja yang sering ditunjukan semesta.
Dia juga mengajariku berjalan menggunakan alas kaki. Dan  berdandan rapih memperhatikan setiap kancing baju yang menempel. Serta membenarkan letak kerudung yang nampak tidak rapih dan bercermin agar  tak ada bedak yang tak rata.
Sebelumnya, aku membenci panas,,,
Sebelumnya, aku menserapah air mata, karena mengundang duka..
Sebelumnya juga, aku mencerca senja yang datang tanpa bersua.
Tapi bulan bercerita lain, dia mengajakku membaca, mengeja, dan merasa setiap peran komik yang tersangkut dipucuk daun.
:P


[entah tulisan jenis apa, yang pasti hurufnya berbentuk calibri dan ukuran font aslinya 11 dan hanya menyimpan pesan saja dan ucapan terimakasih untuk sahabatku :P )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari berbagi pengalaman dan fikiran untuk terus belajar... :)