BERBINCANG DENGAN WARNA

  • 0

Sebagai pencerita aku berhak menceritakan apapun yang aku mau. Termasuk aku akan membentuk sendiri jalan ceritaku. Sebab inilah hidupku. Pilihanku bukan hidup dalam hidupku yang nyata, aku hanyalah kamera pengintai. Aku tidak bisa menikmati kebahagiaan mereka. aku hanya bisa melihat, dan berkhayal tertawa bersama mereka. Ya, karena bagiku aku adalah hal yang harus selalu disembunyikan dari apapun diluar diriku.
Mereka bilang aku orang aneh. Mereka menjulukkiku si Hane, pelesetan dari aneh. Terserah mereka bilang apa, aku nikmati yang sedang aku jalani dan pilih dalam hidupku.
Pilihan mengandung resiko, ya aku tahu itu. dan sampai hari ini hidupku terasa begitu normal-normal saja, tak ada yang berubah. Berjalan sendiri dengan sandal kuning yang murahan. Diantara mereka yang berjejal dengan sepatu high heals yang menyusahkan. Cewek-cewek bercelana jeans ketat, make up yang menor layaknya orang yang pergi kondangan atau ibu-ibu arisan. Ah, gaya hidup bentukan dari modernisasi memang aneh.
Keadaan hidupku menjadi begitu terusik, saat aku harus masuk kuliah di kelas yang penuh dengan perempuan-perempuan yang kerjaannya hanya nongkrong saja, mereka bahkan tidak kenal bahkan bersentuhan dengan buku. Satu hal yang sering aku dengar dari percakapan mereka, “Eh gue pengen sepatu yang kayak gitu, lagi musim tuh”. Itu-itu saja setiap hari.
Sampai saat ini aku masih yakin bahwa peradaban yang maju adalah peradaban yang menjadikan buku sebagai pasangan hidupnya. Aku akan tua bersama karya, dan aku yakin orang-orang seperti itu hanyalah manusia yang tidak tahu caranya berterimakasih kepada orang tua, dan hanya menghabiskan uang ibunya saja.
Maka dari itu, aku lebih senang berjalan sendiri, memerhatikan sekitar kemudian menuliskannya. Atau menikmati musik sendiri di atas sepeda tuaku.
“Mas, kenapa diem aja sih?”
Perempuan berbibir merah merona, dengan farfum menyengat mendekatiku dan menyapaku. Aku tidak menjawab dan fokus pada buku bacaanku.
“Ya, ampun Mas, gitu banget sih”
Sambil berlalu mungkin dengan rasa malu dia meninggalkanku. Aku lebiih senang dengan cerita di buku bacaanku dari pada harus menanggapi perempuan tidak jelas itu.

***
Begitu jelas di telinga aku mendengar ibuku sedang menangis di kamar. Aku tahu apa yang ia tangisi, ia merindukan bapak. Aku hanya berlalu melewati kamarnya membiarkan dia menikmati kerinduannya. Dan aku tidak pernah bertanya, apapun tentang kerinduan itu. sampai nanti aku sendiri mengerti rasanya rindu itu seperti apa.
Sering ibu menangis begitu, setiap aku pulang kampung sekali atau dua kali kudapati ibu menangis seperti itu. tapi di dalam kamar, tak ia tunjukan kepadaku. Bahkan saat keluar dari kamar, wajahnya sudah tegar lagi. Matanya sudah bersinar lagi.
“Nak, tinggal di rumah dulu yah sebentar, ibu mau kerumah Bude dulu,” ucap ibuku sambil berlalu meninggalkanku di kamar. Tubuhnya yang semakin mengecil karena lelah, dan dahinya yang semakin banyak kerutan tersalip dikepala.
“iya bu, hati-hati” ucapku singkat.
Tidak berapa lama kemudian, ibu datang dengan beberapa kain putih untuk para jemaah haji. Aku ingat kalau itu adalah kain yang dibawa dari Bude, karena budeku mempunyai usaha travel haji.
“Apa itu bu,” tanyaku pada ibu, aku sedikit gembira, apa mungkin ibu akan pergi umrah. Mungkin saja dia menyembunyikannya dariku bahwa dia punya uang simpanan karena ibu rajin sekali menabung.
“Ini kain nak, ibu bantu-bantu Bude lumayan buat tambahan uang jajanmu” ucap ibu sambil menyunggingkan senyuman yang sepertinya ia paksakan untuk keluar.
Seketika mataku bergenang air, air mata yang belum pernah keluar dari mataku sebelumnya menetes tepat di pipiku. Aku terpaku dalam diam, menatap punggung ibu yang renta, dan tangan-tangan tua itu yang berusaha memasukan benang dan payet-payet diantara kain-kain putih. Betapa aku rasai tanganku sungguh tak berguna, kepalaku tak berguna, juga kakiku tidak berguna.
Aku lepas kacamata yang aku pakai, karena airmataku ternyata menggenang. Dan aku ingat, kacamata ini pun adalah pemberian ibu. Dari hasil menjual hasil rempah. Setiap pagi giat menumbuh kopi, kopi dari Budeku juga. Ia memberikan uangnya kepadaku untuk membeli kacamata, karena dia tahu mataku mulai bermasalah saat belajar.
Tubuhku yang tinggi besar sungguh terasa tak ada gunanya, hanya menemani ibu dengan peluh di kening, dan harus memutuskan keinginannya sendiri untuk menjadi apa yang dia inginkan. Barangkali, kalau aku tidak ada, ibu akan menjadi wanita karir di luar, karena aku tahu kemampuan ibu tidak kalah hebat dengan ketua PKK di kampungku. Tapi ibu tidak ingin sekalipun meninggalkan kami, anak-anaknya di tengah arus zaman yang tidak menentu, apalagi setelah ayah pulang. Ibu semakin mengerahkan seluruh kemampuannya untuk tetap membuat kami tersenyum.
Sedangkan aku, statusku sekarang adalah mahasiswa. Aku masih bodoh, dan tidak bisa apa-apa. Tanganku saja masih di ragukan oleh orang-orang.
Entah berapa lama ibu mengerjakan pekerjaan itu, saat aku mengambil minuman malam-malam, ditemani dengan segelas kopi hitam kesukaannya, ibu masih mengerjakan pekerjaannya. Matanya tidak lelah, campursari menemani kerjanya di tengah malam.
Malam itu aku hampiri ibu, dan bercakap-cakap dengannya. Aku dekat dengan ibu, jadi aku ceritakan apapun yang aku temukan di kampus. Dan aku pun bercerita pada ibuku bahwa perempuan zaman sekarang tidak ada yang seperti ibu.
Tapi seperti biasanya, ibu menjawab persoalanku dengan tidak menyalahkan satu pihak. Ia selalu bersikap adil, baik dalam ucapan ataupun perbuatan.
“Kau ini, jangan terlalu kesal sama orang lain, nanti kamu cinta lho” canda ibu sambil tersenyum.
“Ah, ibu mana mungkin aku suka sama perempuan yang tidak seperti ibu”.
“gini lho nak, manusia Tuhan ciptakan dengan karakter yang berbeda-beda, zamannya juga beda. Kamu harusnya menjadi manusia yang bisa menyesuaikan zaman. mereka seperti itu karena mereka hidupnya di zaman sekarang. Mungkin kalau ibu hidup di zaman sekarang, ibu juga akan seperti mereka. Dan tugas kamu nak, sebagai orang yang Tuhan beri kesadaran. Dekatilah mereka, ajak mereka bicara, tanyakan apa yang mereka mau, kau sebagai orang yang tahu, berilah mereka tahu. Sesungguhnya orang yang memberi itu lebih baik daripada orang yang menerima, bukan? ah, kau anak kuliahan kau akan lebih tahu. Dan kalau kamu mau perempuan seperti ibu, kamu bakal dapat nenek-nenek” sambil terkekeh ibu menggodaku.
Setiap ibu berkata panjang lebar seperti itu, aku hanya bisa mendengarkan dan dalam hati aku iyakan. Mataku juga tidak pernah berkedip agar memastikan semua perkataan ibuku aku kutip dengan baik di dalam sanubari.
Sambil menasehatiku, tangan ibu dengan lihai memegang jarum dengan jemarinya yang mulai keriput dan terbakar sinar matahari. Ia tusukkan ke bagian bawah kain, dan diatasnya ia pertemukan dengan kancing, sehingga membentuk ikatan yang kuat.
“Bu, ibu mau aku jadi apa?” aku keluarkan pertanyaan itu yang sedari dulu aku fikirkan.
“Kamu ini, ada-ada saja, kenapa kok kamu bertanya seperti itu” sambil menyunggingkan senyum ibu menjawab pertanyaanku.
“He,, soalnya aku penasaran bu, kenapa ibu selalu bekerja buat anakmu ini yang sudah besar. Kok mau-maunya ibu membiayai aku dan adik-adik padahal belum tentu masa depan kami cerah lho bu”
“Nak, siapa yang bisa menjamin masa depan seseorang. Siapa yang tahu, ibu hanya berusaha memenuhi kewajiban ibu sebagai orang tua. Ibu hanya tandur nak, ibu sudah mengharamkan diri ibu untuk panen. Ibu hanya memaksimalkan anggota tubuh ibu, jari, tangan, kaki karena sudah Tuhan kasih”
Aku menundukan kepala, aku tahu ibu selalu memiliki jawaban yang membuatku harus merunduk. Mencari lagi diri sendiri.
Aku tahu, aku belum membebani diriku dengan kerja yang maksimal. Saat pelajaran aku masih sering mengantuk dan tidur. Bahkan aku tidak tahu pelajaran apa yang aku dapatkan hari ini. Tapi, kau tahu, meskipun ibu tidak pernah memberikan kata semangat, atau bualan kata semangat. Manusia desa sepertiku tidak suka bergombal-gombal mengatakan hal apa yang sering orang-orang kota lakukan.
Ibuku tidak begitu, aku bahkan tidak pernah mengatakan kata sayang kepada dia. Tapi ibu tahu aku sangat sayang. Aku juga tidak pernah mengucapkan selamat pada ibuku saat hari ibu tiba. Tidak seperti yang lain. Tapi, aku yakin ibu tahu, bahwa cinta aku kepada ia tidak hanya dengan ucapan selamat hari ibu. Bahkan aku tidak tahu hari ulang tahun ibu. Itu pun tidak masalah baginya.
Maka dari itu, hal yang menyemangatiku, orang kecil sepertiku adalah dari cara ibuku mengabdikan dirinya menjadi seorang ibu. Melakukan kewajibannya dengan sempurna sebagai seorang ibu.
****
Aku renungi kembali perkataan ibu, bahwa kita diciptakan berbeda-beda. Dengan keadaan dan zaman yang berbeda pula. Kelas yang aku rasa sempit karena kesalnya aku melihat kelakuan anak-anak kelas, mulai aku fikirkan matang-matang. Aku cari sampai ke akar, permasalahan kenapa aku sampai berfikir seperti demikian.
Akhirnya aku tahu, aku memenjarakan diri sendiri. Aku membuat neraka dari kepalaku sendiri. Melihat orang lain adalah musuh besar yang harus dihindari adalah salah besar. Justru hal yang aku yakin adalah penting adalah cara Tuhan menciptakan manusia. Kenapa mereka harus aku kenal adalah karena mereka adalah partnerku dalam hidup. Mereka adalah penyempurna kehidupanku.
Aku mencoba terbuka dengan mereka, perempuan-perempuan yang tidak enak di pandangan itu. Orang pertama yang aku kenal adalah Roma, dia anak yang paling update. Pakaiannya ketat sekali, dan kadang dadanya terlihat. Ia berperawakan Barby, dan aku akui di cantik.
Ia orang pertama yang aku ajak bicara. Aku ajak bicara dengan pembicaraan yang biasa-biasa saja. Dan dia memang atraktif, seperti yang ilmu komunikasi bicarakan, orang seperti ini adalah orang yang akan menarik si pembicara. Nada bicaranya lantang, matanya fokus melihatku setiap apa yang aku bicarakan. Dan dia pun merespon setiap apa yang aku bicarakan dengan gaya yang menarik.
“Apa yang kamu rasakan ketika berbicara tentang ibu?” aku memberikan dia pertanyaan seperti itu.
“Ibu, ibu adalah kata yang paling sulit buatku, sejujurnya. Sebab, aku tahu dia segalanya bagi aku. Speachless mas, aku gak bisa bicara soal ibuku” dengan matanya yang berkaca-kaca.
Ternyata setelah aku bicara lebih jauh, Roma memiliki seorang ibu yang sudah tidak bisa melakukan apapun. Penyakit menahun yang dideritanya telah membuat saraf-saraf ibunya tidak berfungsi.
Aku ketahui lagi, bahwa Roma bekerja di sebuah butik. Ia berbakat dan pintar mendesain pakaian. Jadi dia bekerja disana, dan pekerjaan itu membentuknya menjadi perempuan seperti itu.
Tuhan, maafkan aku salah menilai orang. Memang benar yang ibuku katakan. Bukan hanya Roma yang aku ajak bicara, Meri, Andriani, dll. Mereka memiliki karakter yang berbeda. Dan ternyata mereka adalah anak-anak yang penuh semangat. Dan satu orang yang paling pendiam. Dia adalah Senja. Senja lain dengan yang lain. Dia tidak bertingkah seperti perempuan-perempuan lain di kelas. Dia diam, hanya tersenyum saja jika melihat hal-hal yang mungkin baginya menarik.
Dan aku dekati dia, aku bicara beberapa patah kata dengannya. Masih belum ia menampakkan aslinya. Aku heran dengan anak ini. Lelaki mana yang tidak penasaran dengan perempuan seperti dia, ia membuatku penasaran. Dan aku hanya melihatnya dari jauh. Ia nampak seperti pemurung. Tapi dari matanya tampak sinar lain, bercahaya.
Aku dekati ia hari demi hari. Senyumannya semakin hari semakin berkembang. Aku yakin dia sudah mulai tertarik padaku. Aku gali terus siapa dia, sampai pada akhirnya aku harus tahu bahwa dia adalah seorang penulis muda berbakat yang tidak tulisannya sudah diterjemahkan kedalam 5 bahasa. Sialan, anak ini. Bagaimana mungkin aku tidak tahu.
***
Benar kata ibuku, aku tidak akan pernah tahu dimensi setiap manusia tanpa aku melihat mereka dengan dekat. Terimakasih bu, terimakasih Tuhan.
KEDIRI, 29 DESEMBER 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari berbagi pengalaman dan fikiran untuk terus belajar... :)