Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essai. Tampilkan semua postingan

Sentimeter Indonesia

  • 0
Pare, sebuah kampung di Tegalrejo ini menjadi sayap kebangkitan kota Kediri. Menjadi tempat mengunduh ilmu bahasa. Kedatanganku kedua kalinya kesini menjadi perjumpaan yang tidak biasa lagi.
Kereta yang mengantarku ke Kediri seperti perjumpaan dengan kawan lama. Bahagia meski kembali canggung. Kemudian ia menjadi tempat tidur paling nyaman saat perjalanan. Lalu tepat di arah aku melihat ke kanan, aku melihat seorang lelaki berkulit coklat tua duduk disana. Dengan pakaian hitam, dari wajahnya aku bisa menebak kalau ia orang Jawa, maksudku dengan bahasa Jawa pula. Kemudian, suasana Jawa mulai tercium dari pemuda itu.
Dua belas jam kurang lebih, telah berlalu, perjalanan sudah sampai di statsiun Lempuyangan. Stasiun yang sering aku temui, bercerita dan kurindukan. Kotanya selalu memanggilku, selalu memberiku sebuah imajinasi untuk segera menyambanginya sekedar berjalan kaki di senja hari atau menikmati terik mentarinya. Ya, Jogja bagiku tidak hanya sekedar cantik, tapi anggun dan bersahaja.
Datang ke gerbong satu, tempat dimana aku duduk dua orang berkacamata. Kulit sawo matang dan hidung yang bagus. Bibir yang sama besar tapi tipis, serta berjaket merah dengan kaos di dalamnya. Aku yakin dia seorang mahasiswa, dan ternyata benar, setelah temanku sempat berbincang dengannya. Ia duduk di bangku yang sama denganku. Tepat berada di depan kursi ku duduk. Sampai aku tidak tahu harus membuang pandangan kemana, karena disampingku jendela, maka ku putuskan berpura-pura melihat jendela di sebelahku. Padahal raut muka pria itu lebih menarik.
Setelah dia duduk aku tahu ada yang tidak beres dengan kepalaku. Khayalanku kembali liar setelah melihat pemuda itu. Seluruh alam bawah sadarku bangkit menerka-nerka ingin dan memintaku untuk tidak tinggal diam. Untuk sekedar bertanya, berdiskusi atau membicarakan hal yang ia sukai. Aku yakin ia bukan lelaki yang sering aku kenal. Ia pembaca buku, ia mencitai buku dan perempuan yang ia suka adalah perempuan yang anggun dan berpenampilan bersahaja. Serta terlihat solehah, berkacamata pula. Fikiranku kembali meracau, aku melihat jendela dan memikirkan hal yang jauh dari kemugkinan. Aku berfikir untuk bisa berjalan berdua dengannya bersepeda santai menyusuri kota Kediri. Sebab kebetulan dia pun pergi ke Pare. Namun, kemudian aku mengingat bentuk tubuhku, caraku berpakaian, caraku bersosialisasi dan akupun mengurungkan untuk melanjutkan imajinasi liarku. Dan aku putuskan tidur saja sebelum akhirnya aku harus pindah tempat duduk.
Perjalanan kereta api adalah perjalanan yang paling berkesan. Tahui saja, Kereta Api itu seperti raja di perjalanan. Ia menyingkirkan orang yang lewat di jalan untuk Ia berjalan di rel. Ya, sebab ia raja kendaraan. Dan untuk orang kampung sepertiku itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Meskipun untuk kesekian puluh kalinya aku naik kereta. Tapi kesannya selalu saja berbeda di setiap kesempatan. Dengan kereta api kita diajak kembali ke alam. Menyapa alam dari sudut pandang masing-masing yang melihat pemandangannya. Dan itu hanya bisa kau dapat dengan hati yang tenang, dengan fikiran yang jernih. Maka, aku yakin senyummu akan melebar saat kau melihat sawah-sawah yang terbentang luas. Hutan-hutan yang seharusnya lebih rimbun, dan kebun-kebun yang bersahabat dengan petani.
Kemudian Cleaning Servis Perjalanan mulai membersihkan kereta. Mereka menyusuri tiap gerbong memunguti sampah yang berserakan. Ia adalah seorang bapak yang usianya mungkin sudah 40-an dan seorang lelaki yang usianya sekitar 28-an. Mereka kompak memunguti sampah. Hingga kemudian aku mendengar suara si bapak yang berumur 40-an itu berbicara, dan memerhatikan koperku yang ada di bawah menghalangi jalan. Si bapak bilang “nanti saya bereskan ya mbak kopernya”. Dengan wajah datar namun penuh tanggung jawab dan rasa sayang. Demikian kesan yang aku dapat. Si bapak itu kemudian menggeser ransel yang ada di atas dan menempatkan koperku disana. “terimakasih ya pak” kata temanku. “Iya, sama-sama” sambutnya masih dengan wajah yang datar namun terdengar sopan dari logat Jawanya. Ah, sungguh.
Lalu stasiun demi stasiun kereta menurunkan penumpang. Stasiun Madiun, Stasiun Barok, stasiun Balapan, ahhh asyik sekali melihatnya. Yang di dalam, seperti keluarga yang harus singgah di tempat-tempat yang mereka tuju. Tapi ada perasaan lega, dan ingin tersenyum saja.
Kemudian, aku turun di stasiun kediri. Membawa koper dan mengikuti orang-orang melewati pintu yang sama. Sampai disana, sumringah yang ada. Perjalanan yang sangat menggembirakan. Lalu, kita disambut oleh para lelaki yang berseragam kuning, sponsor dari salah satu kartu perdana. Mereka tahu bahwa kami menuju ke Pare dan menawarkan jasa becak untuk sampai ke tempat mobil yang menuju ke desa Pare. Mereka menawarkan Jasa sebesar Rp. 20.000 untuk satu becak. Aku setuju saja untuk membayar mereka sebesar itu, dan sebenarnya sama sekali tidak ingin menawar kembali. Sebab, dari raut muka mereka aku melihat lelahnya mencari uang. Legamnya kulit mereka yang harus mengakrabi matahari membuatku enggan untuk menawar lebih rendah daripada harga itu. lalu, kami putuskan untuk naik becak, meskipun temanku sempat enggan naik becak, sebab menurut informasi yang ia dapat harganya cukup mahal.
Perjalanan becak mengajaku menelusuri Kota Kediri meskipun sedikit, tapi lagi-lagi nuansa Jawa membuat tubuhku memberikan respon positif untuk selalu menikmati perjalanan, dan segala hal yang ada disana. Terik matahari tidak canggung ku nikmati, sebab bagian dari Jawa adalah terik matahari.
Lalu becak menurunkan kami di tempat lewatnya kendaraan umum menuju ke Pare. Ada tukang becak juga disana. Dan mereka bertanya kepada kami hendak kemana. Entahlah, yang selalu ku rasa dari logat Jawa adalah bahasa dan logat mereka yang selalu anggun dan bersahaja. Lalu, mereka pun membantu kami memberhentikan setiap kendaraan umum yang lewat yang memang tujuannya ke Pare.
Sedikit informasi, di daerah Kediri memang kalau untuk pendatang akan sulit menemukan kendaraan seperti di kota-kota besar, semisal Bandung yang memiliki banyak kendaraan umum seperti angkot. Tapi di Kediri, kita tidak akan menemukan kendaraan semacam itu, kendaraan umum yang dipakai lebih mirip kendaraan pribadi dan sebagian kendaraan tidak ada tertera nama tujuan mobil tersebut. Maka, jika tidak dibantu oleh tukang becak entah bagaimana aku mendapatkan kendaraan menuju ke Pare.
Kemudian, aku perhatikan supir yang membawa kendaraan ini. Ia berambut ikal dengan sedikit di kepang ke belakang. Rautnya garang, tapi tutur bahasanya masih saja aku suka, aku anggap bersahaja. Seperti itulah aku melihat orang Jawa hari ini.
Beberapa orang kutemui disini, Pare kota kecil nan anggun. Kebunnya masih asli, begitupun rumahnya, hanya sebagian rumah yang berukuran raksasa dan yang lainnya masih mempertahankan kesederhanaan desa. Begitupun warung-warung makan. Banyak warung makan sederhana dengan menu-menu kental jawa, bumbu yang tidak begitu asin dan pecel. Fast food juga ada, tapi lidah dan hatiku lebih akrab dengan makanan asli mereka.
Banyak orang berharga yang aku temui kembali disini. Pertemuan dengan orang-orang disini bukan tidak berarti, tetapi pasti akan ada yang paling berkesan dan  ada juga yang berkesan biasa saja.
Orang kedua setelah orang-orang yang kutemui di perjalanan itu adalah lelaki bertubuh tinggi besar, jika orang lain berdiri disampingnya, orang itu akan terlihat sangat pendek, apalagi yang memang asalnya pendek (hehe..) ia berkacamata, dan berkening lebar. Ya, nampak seperti orang-orang pintar kebanyakan. Dan aku tidak salah menilai, ternyata dia bukan orang bodoh.
Berasal dari sebuah kota dekat Kediri, bernama Tulungagung. Dia sarjana bahasa Inggris dari STKIP PGRI Tulungagung. Agak heran melihat anak ini, aku tidak pernah melihatnya malas, mengeluh, atau murung. Keadaannya selalu bersemangat, meskipun kadangkala dia mengantuk. Tapi, dalam keadaan sadar dia selalu menunjukkan kesan semangat dimataku. Dan dia selalu mengharga waktu, aku tidak pernah mendapati dia datang telat, kalaupun sudah melewati jam masuk, sudah di pastikan di tidak masuk.
Dan suatu hari aku pernah berbincang sedikit dengan lelaki berusia 23 tahun ini, dia membawaku berbincang tentang keadaan anak muda zaman sekarang, tentang cabe-cabean dan perkembangan zaman. Beberapa kali berbincang dengannya isinya bukan hal biasa, menurutku. Tapi selalu ada kesan perjuangan, kritik sosial dan “mahasiswa” itu ada pada dirinya.
Selain itu, yang aku heran dia juga selalu cerita. Padahal orang-orang disekitarnya adalah anak-anak yang baru keluar dari SMA. Aku saja tidak begitu kerasan bersama mereka. Tapi cara dia menghadapi anak-anak itu lain, aku beranggapan mungkin karena dia adalah figur guru. Tapi ternyata bukan hanya itu, dia beranggapan untuk menjadi manusia besar, kita harus bisa masuk ke berbagai kalangan. Dan itu, aku nilai dia  berhasil. Sebab, aku sendiri tidak mampu seperti itu.
Ya, akan selalu ada seseorang yang berharga di balik orang seperti itu, begitupun dia. Dari ceritanya, Ibu adalah inspirasi tertinggi baginya. Segalanya bagi dia.
Dan orang selanjutnya yang aku temui disini, baru-baru ini adalah lelaki berbadan gemuk berumur 28 tahun berasal dari Jogjakarta. Kita sempat berbincang di sebuah angkirangan dekat kosan. Dari pembicaraannya dia orang yang banyak pengalaman. Ya, dia pernah menjadi reporter sebuah surat kabar dan sekarang dia adalah penulis di salah satu website besar indonesia. Tapi, sempat dia bilang, “jangan anggap aku orang keren, itu bukan keinginan aku, itu karena kepepet. Jangan ditiru” ungkap dia siang itu.
Dia pun pernah kuliah selama dua tahun, tapi tidak pernah selesai. Dia bilang “Saya hanya kuliah sampai saya tahu 5W+1H, setelah itu saya tidak lanjutkan kuliah lagi” aku tanyakan pada dia kenapa. Dia hanya bilang bahwa dia kuliah hanya ikut-ikutan saja. Dan  jurusan yang diambil pun asal. Dia ambil fakultas Komunikasi dengan konsentrasi periklanan.
“Kuliah memang bukanlah tempat kita menggantungkan pekerjaan, tapi kuliah untuk mendapatkan ijazah. Sebab, bukti nyata bagi orang tua adalah ijazah. Dia akan merasa telah berhasil menjadi orang tua ketika mereka telah kita berikan bukti ijazah. Mereka akan senang ketika kita mendapatkan ijazah kita. Soal nanti dapat kerja atau tidak itu masalah lain.” Ungkapnya dengan nada nampak menyesal. Karena dia harus ditinggal bapaknya beberapa waktu setelah dia memutuskan berhenti kuliah.
Ia pun bercerita tentang didikan bapaknya yang mebuat aku sendiri terheran-heran dengan orang tua yang berani seperti itu. Dia bilang, ayahnya sering menampar jika adiknya yang duduk di bangku sekolah dasar nyanyi-nyanyi lagu-lagu galau zaman sekarang. Dan ayahnya lebih senang jika anaknya mengumpat saja jika dia merasa sedih ataupun kesal. Tapi, itu harus dilakukan di rumah, tidak di tempat lain.
Cara pendidikan ayahnya memang unik. Ayahnya tidak pernah melarang dia merokok, tapi dia berpesan untuk merokok di rumah saja. Tidak di tempat lain, dan jika ketahuan merokok di luar rumah, maka kembali ke rumah tubuh tidak akan selamat. Pasti akan ada yang kena dampar.
Dia sadar, merokok di rumah itu tidak asyik. Karena keasyikan merokok itu adalah ketika bersembunyi dari orang tua dan merokok disuatu tempat yang tersembunyi dari orang tua. Itulah asyiknya merokok.
Aturan paling ekstrim di keluarganya yaitu, ayahnya membolehkannya minum dan masih sama, tempatnya hanya di rumah. Sebab, dia sendiri pernah ketahuan minum oleh ayahnya bersama temannya. Dan akhirnya ayahnya berani membelikannya minuman asal dia minum di rumah dan tidak diketahui ibunya. Dan lagi-lagi itu tidak membuatnya ingin minum, karena baginya itu tidak asyik.
Selanjutnya pesan-pesan ayahnya untuk dia dan adik-adiknya adalah dia boleh melakukan hal apapun di luar, asalkan bertanggungjawab, tidak berbohong, dan tidak menyakiti manusia manapun. Begitupun saat adiknya yang SMP harus melalui masa SMPnya dengan tawuran. Ayahnya tidak bergeming melarang, pesannya hanya satu, jika berantem dan pulang dengan babak belur. Jangan anggap mereka musuh, lalui dengan rasa gembira dan pulanglah dengan tersenyum. Dan ya, adiknya pernah pulang dengan keadaan babak belur dan bibirnya tidak sedikitpun terlihat dendam tapi tetap tersenyum.
Hingga, kelakuan paling parah membawa adiknya ke penjara. Dan saat itu juga adiknya tidak tawuran lagi, sebabnya sepele. Karena ketika ayahnya menjenguk, ia tidak marah atau mengumpati dia. Dia hanya bilang “Hebat kamu bisa sampai masuk penjara, kamu tetap anak ayah, asal kamu tidak nyolong” ungkap ayahnya dengan senyuman. Dan itulah yang membuat adiknya tidak kuat melihat raut wajah ayahnya.
Ia datang ke Pare dibiayai oleh bosnya untuk belajar bahasa. Tidak sama seperti mahasiswa bahasa Inggris yang aku katakan tadi, semangat lelaki yang berasal dari Jogja difokuskan pada pekerjaannya, dan dia bilang dia tidak kuat mengikuti pelajaran. Dia pun berujar bahwa semua yang diberikan dan diulangankan itu belum selesai disitu saja. Masih ada dunia nyata yang harus dihadapi. Sehingga dia lebih sering bolos kelas untuk bekerja daripada masuk untuk mendengarkan guru menjelaskan.
Tapi dia tetap bertanggung jawab menjadi ketua kelas, dia tetap memberikan wejangan kepada anak-anak kelasnya dan memberikan tanggungjawabnya sebagai ketua kelas. Seperti mengakomodir keinginan anak-anak kelasnya saat akan liburan, atau untuk sekedar menjenguk anak kelasnya yang sakit. Dia datang, meskipun pada waktu mata pelajaran dia tidak datang.
To be continued...

Komunitas Lima Gunung

  • 0

Malam itu, bulan Juni tanggal 16 tahun yang sama saya dan teman-teman pergi ke acara bulanan Kenduri Cinta. Tema yang diangkat saat itu adalah "Bayang-bayang Para Ksatria". Malam itu sekaligus merayakan acara ulang tahun Kenduri Cinta. 

Sebelum pukul 20.00, di Taman Ismail Marzuki (TIM) sudah terlihat orang-orang yang hadir. Kami seperti biasa mampir di depan panggung Kenduri Cinta, mengganjal perut dengan nasi kucing, gorengan dan sate jeroan.

Pukul delapan lebih acara sudah dibuka dengan membaca alquran bersama, dan pemaparan tema oleh beberapa orang di depan. Yang sangat menarik malam itu adalah kehadiran komunitas Lima Gunung.

Mas Tanto Mendut, yang membawa Komunitas Lima Gunung malam itu duduk di depan, dan memimpin penampilan 53 orang perwakilan Lima Gunung. Perbincangan diawali dengan definisi Ksatria yang diangkat menjadi tema malam itu, dengan kesimpulan dari dalang yang merupakan anggota Lima Gunung, bahwa ksatria adalah ia yang konsisten pada tugasnya. Hal ini tidak lain diangkat dari realita yang terjadi pada pemilihan presiden saat itu dan seperti sebuah sindiran pada mereka yang mencalonkan diri menjadi presiden. Dan tarian Tembang Gunung mengawali penampilan Lima Gunung. 

Tembang Gunung dibawakan oleh beberapa orang perempuan, lelaki dan anak-anak. Diawali oleh kawih Jawa yang entah apa arti dan judulnya saya gagal faham. Tapi disana saya sedikit mengerti nyanyian tersebut berupa wejangan. Kemudian tarian disambung dengan datangnya empat orang pria dewasa, dengan dandanan gagah ksatria. Badan kekar, pandangan tajam dan tidak pernah membungkukan badan. Kumis tebal yang menunjukkan wibawa yang agung. Serta tarian yang menggambarkan berani dan siap melawan. Sungguh pemandangan menakjubkan yang sering saya tunggu-tunggu. Dan tarian diakhiri dengan tembang ayo maju, maju terus pantang mundur, maju sampai penghabisan.

Gambar dari web lima gunung


Yang ketiga, berjudul warok anak dan hiphop. Mas Tanto berujar, bahwa mereka dipengaruhi Los Angeles, Frank Sinatra, Institute Kesenian Jakarta, pidato-pidato yang kurang kultural dari tim sukses, intinya mereka sangat terbuka pada pengaruh-pengaruh, terutama khazanah Jawa yang rumit. Tarian itu dibawakan oleh delapan orang bocah berpipi kembung yang membawakan warok dan satu orang anak muda berkacamata hitam yang menari hiphop  dengan tubuh yang amat lentur. Paduan tarian tradisional dan modern menjadi sajian yang sangat meriah malam itu, suara musik yang bersemangat membawa suasana fikiran menjadi gegap gempita. Di tengah-tengah tarian warok ada adegan teatrikal antara dua bocah yang paling kecil. Mereka seolah sedang bertengkar, saling beradu kepala dan saling menantang dengan gagah. Katanya ini diibaratkan sebuah keberanian saat melawan dan berhadapan dengan musuh.
Gambar dari web lima gunung

Selanjutnya puisi yang dibawakan oleh Atikah seorang anak muda dari desa yang senang berpuisi, dan Mba Tias yang merupakan direktur utama Borobudur dan Candi Prambanan. Dilanjutkan dengan tarian yang berjudul kipas nego yang dibawakan oleh ibu-ibu dari Lima Gunung.

Komunitas Lima Gunung terdiri dari paguyuban warga dusun yang tinggal di daerah yang dikelilingi lima gunung di Magelang. Yaitu Merbabu, Merapi, Sumbing, Andong dan Menoreh. Orisinalitas Indonesia mereka bawa dari desa, dengan ketulusan dan cinta mereka terhadap kebudayaan yang memiliki pesan yang sangat tinggi terhadap kehidupan. Selain itu, seperti yang dipaparkan mas Tanto bahwa Lima Gunung menciptakan budaya yang tidak dilakukan oleh orang-orang kota yang disebut modern. Misalnya, kamar mandi di rumah mereka lebih bersih daripada TIM atau UIN Jakarta, serta meraka adalah orang yang selalu tepat waktu dimanapun, tanpa ada yang membawa jam.

Rasus, lagi

Aku mulai kembali mengenang matamu. Saat kau berkedip, dan kau luruhkan kata-kata yang berusaha ku artikan bahwa kau tak pernah berharap menjadi lelakiku. Yang kemudian menjadi sebuah alasan buatku untuk semakin menghasrati berdua denganmu.

Malam itupun, kembali ku kenang. Saat kita menyeduh kopi, kemudian memperbincangkannya sampai larut malam. Dan aku masih ingat, betapa berat melepasmu untuk beranjak dari tempat dudukmu.

Apa kau pernah sesekali mengenang itu?

Kemudian cinta bisa ku bahasakan. 

Rasus

Lelaki ini membawa beribu pepohonan hijau yang ia tanam di kepalaku. Kemudian tumbuh subur bersama waktu. Ia pun membawa hujan, juga surga, membawa cuaca, letusan gunung dan awan tebal. Kemudian pohon berdaun lebat dan buah juga kembang.

ya, kaupun tahu, kadang harus gugur daun itu. Tapi, kau mestinya juga tahu daun gugur di bulan kemarau itu bisa kau bahasakan seperti rasa. Cinta yang membekas, yang abadi pada pula dalam gugurnya.
Image by: Pidi Baiq

Pernikahan Beda Agama, Lantas Kenapa?

  • 0
Pernikahan beda agama adalah permasalahan yang tidak kunjung usai diperbincangkan, sedangkan pasangan pernikahan beda agama juga tidak bisa ditiadakan. Pernikahan lintas agama, adalah hal yang menjadi pembahasan yang belum menemukan titik yang pasti. Negara pun menyerahkan hal tersebut kepada agama, sehingga tidak sedikit pasangan pernikahan lintas agama yang melangsungkan pernikahannya dengan dilanda banyak permasalahan yang cukup kuat dari pihak eksternal. Meskipun begitu, pernikahan beda agama di Indonesia oleh sebagian dari mereka dianggap tidak boleh dilakukan, karena beberapa hal yang sangat mendesak yang berasal dari rujukan kitab suci yang mereka pahami.
Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwanya pada tahun 2005 mengenai pernikahan lintas agama, merujuk pada Q.S An-Nisa ayat 3: 
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
Serta QS. Ar-Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Selain dua surat al-Quran tersebut, MUI juga merujuk pada beberapa surat dalam al-Quran diantaranya : at-Tahrim ayat 6, an-Nisa ayat 25, al-Maidah ayat 5, al-Baqarah ayat 221, dan al-Mumtahanah ayat 10. Dan ditetapkan bahwa pernikahan beda agama dan pernikahan laki-laki dengan perempuan ahl kitab adalah haram.
            Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar ke-28 di Yogyakarta akhir November 1989 dalam fatwanya menegaskan bahwa nikah beda agama itu tidak sah. Begitu pula ormas Islam terbesar kedua di Indonesia Muhammadiyah. Muhammadiyah juga memfatwakan haram bagi pernikahan beda agama yang didasarkan pada Q.S al-Baqarah ayat 221.

Namun, dalam realitasnya pernikahan lintas agama tetap saja terjadi. Di Indonesia saja, pasangan pernikahan beda agama pada tahun 2011 sudah mencapai 299 pasangan, sedangkan pada tahun 2004 mencapai 1.109 pasangan[1]. Seperti yang terjadi pada pasangan mentalist yang sering di sorot di media massa adalah Deddy Corbuzier dan pasangannya Kalina. Mereka menikah dengan perbedaan agama, yang akhirnya harus bercerai dengan alasan perbedaan agama yang mereka yakini.  Hal ini ternyata berpengaruh besar terhadap keberlangsungan pernikahan mereka. Ada kesadaran yang muncul dari pasangan ini bahwa perbedaan agama yang mereka miliki akan memberatkan anak mereka.[2]
Lain halnya dengan Ahmad Nurcholis[3], pelaku pernikahan lintas agama, yang melangsungkan pernikahannya pada bulan Juni 2003. Pernikahan  dilakukan dengan dua cara, yaitu secara Islam, di sahkan di Universitas Paramadina. Dan di pihak Istri dengan cara pernikahan Konghucu di Li Cheng MATAKIN. Sampai saat ini Ahmad Nurcholis sudah dikaruniai dua putera.
Bisa disimpulkan bahwa pernikahan lintas agama ini memang memiliki dua tantangan yang cukup signifikan. Yang pertama, tantangan berasal dari komitmen yang nanti bisa dibangun oleh pelaku, dan tentangan kedua yaitu muncul dari pasangan tersebut, atau kita sebut saja faktor eksternal.
Sebagai pelaku pernikahan lintas agama, Nurcholis memberikan pertanyaan terkait pernikahan ini. Yaitu, sejauh mana kesiapan pelaku pernikahan. Dan kedua, bagaimana komitmen yang akan dibangun oleh suami istri tersebut terhadap anak-anaknya kelak.
Dari faktor eksternal, permasalahan yang kerap kali muncul dari pelaksanaan pernikahan lintas agama, kurang lebih ada 5 permasalahan yang ditemukan.[4] (1) aspek keagamaan. Terkait hal ini lembaga keagamaan jarang yang memberikan ruang terhadap pernikahan lintas agama. Hal ini merupakan hambatan utama yang akan dihadapi oleh pelaku pernikahan lintas agama. Pandangan-pandangan haram yang didapatkan dari kitab suci seringkali dijadikan rujukan utama. QS. al-Baqarah ayat 221:
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”
(2) Lembaga keagamaan. Pernikahan berkaitan erat dengan lembaga keagamaan. Sebagaimana pandangan agama terhadap pernikahan lintas agama, mereka bahkan menafsirkan bahwa hari ini ahli kitab sudah tidak ada lagi, yang hari ini diakui sebagai ahli kitab adalah mereka yang sesat. Pandangan lembaga keagamaan ini, seharusnya tidak terjadi di negara kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila.
 (3) Orangtua dan keluarga, juga merupakan tantangan tersendiri. Keluarga yang tidak paham akan keagamaan, biasanya mereka menyerahkan seluruh persoalan kepada agamawan.
(4) Oknum penyelenggara negara (RT, RW, Catatan Sipil). Dalam beberapa pasal tentang pernikahan, tidak ada pelarangan negara terhadap pernikahan lintas agama. telah disebutkan dalam Undang-undang, asalkan sesuai hukum agama masing-masing.[5] Namun yang terjadi di KUA ternyata belum bisa mencatat pernikahan lintas agama. Padahal, keputusan MA No. 1040 tahun 1986/189 telah ditetapkan bahwa perbedaan agama tidak ada halangan untuk melakukan pernikahan. MA memerintahkan terhadap pemerintah Departemen Dalam Negeri untuk mencatat mereka yang menikah beda agama ;dan
(5) Masyarakat, dalam tantangan sosial kemasyarakatan, hal yang memang akan didapatkan oleh pasangan pernikahan beda agama ini adalah mereka akan mendapatkan perlakuan yang terkadang mengalienasikan keberadaannya. Dan secara psikologis ini dapat mengganggu.
Seluruh permasalahan ini lebih dominan dari pihak luar yang memproses pernikahan lintas agama. Pada aspek keagamaan, yang muncul adalah klaim kitab suci yang mengharamkan pernikahan beda agama, yang pada akhirnya menjadi sebuah budaya yang ditentang dari berbagai pihak. Berawal dari pandangan terhadap kitab suci yang ditafsirkan hanya dari satu sisi. Dari keterlarangan tersebut, dan dari adanya pembelaan dan klaim kebenaran yang dianut.
Ada ayat yang sering dilupakan oleh para agamawan, menangani penikahan ini. Yaitu Q.S al-Maidah ayat:5  

“Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi.”
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terjadi perubahan yang signifikan terutama dalam penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Aspek-aspeknya menjadi sorotan oleh masyarakat dunia. Perkawinan merupakan hak asasi yang paling mendasar yang tidak bisa diintervensi oleh siapapun termasuk negara. Sebaliknya negara memiliki kewajiban melindung hak-hak tiap warga negaranya. Penyikapan terhadap HAM juga kurang populer di kalangan petugas pencatatan sipil pernikahan, termasuk agamawan. Pada UUD HAM tahun 1999, dinyatakan bahwa negara menjamin hak-hak sipil termasuk pernikahan beda agama.
Peraturan perkawinan campuran/regeling op de gemengde huwelijken, Staatsblad 1898 nomor 158 (GHR), beberapa ketentuan[6] tentang perkawinan beda agama selanjutnya dijelaskan oleh Muhibuddin bahwa pasal-pasal tersebut menandakan bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk tidak melakukan pernikahan.
Kemudian landasan UUD No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (1), pasal 8 huruf f dan pasal 57 pasal 2 ayat (1) berbunyi: Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.
Sedangkan pasal 8 huruf f berbunyi: mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.
Dari sinilah muncul pemahaman yang berbeda tentang pernikahan lintas agama. Namun, kita juga bisa melihat hukum tersebut dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 49 huruf c dan pasal 44 yang menyatakan sebagai berikut.
Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita karena keadaan tertentu:
a.Karena wanita yang bersangkutan masih terikat satu perkawinan dengan pria lain;
b. Seorang wanita yang masih dalam masa iddah dengan pria lain;
c.Seorang wanita yang tidak beragama Islam.
Pasal 60 Kompilasi Hukum Islam menguatkan hal ini:
(1) Pencegahan perkawinan bertujuan untuk menghindari suatu perkawinan yang dilarang hukum Islam dan peraturan perundang-undangan.
(2) Pencegahan perkawinan dapat dilakukan bila calon suami atau calon istri yang akan melangsungkan perkawinan menurut hukum Islam dan peraturan perundang-undangan.
Coppyright: by Iis Nurhayati  (Diulas dalam proposal Iis Nurhayati yang berjudul Perniakahan Beda Agama dalam Perspektif Komunitas LIntas Agama Jakatarub). 




[1] Sejak 2004-2011 ada 1190 Pernikahan Beda Agama, diakses dari  http://beritakbar.blogspot.com/ pada tanggal 26 Desember 2013 pukul 21.49 WIB
[2] Deddy-Kalina Akui Bercerai Karena Perbedaan Agama, diakses dari okezone.com, pada tanggal 04 Desember 2013, pukul 08.00 WIB.
[3] Aktifis ICRP (Interfaith Conference for Religious and Peace).
[4] Dikemukakan oleh Ahmad Nurcholis pada diskusi pernikahan lintas agama yang dilaksanakan oleh komunitas lintas agama JAKATARUB  pada 23 Januari 2010.
[5] Pasal 2 (1) Undang-undang No. 1/1974 yang menyatakan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Hal ini berarti Undang-Undang menyerahkan kepada masing-masing agama untuk menentukan cara-cara dan syarat-syarat perlaksanaan perkawinan tersebut (di samping cara-cara dan syarat-syarat yang telah ditetapkan Negara).
[6] Pasal 1:
Pelangsungan perkawinan antara orang-orang, yang di Hindia Belanda tunduk pada hukum yang berbeda, disebut perkawinan campuran.
Pasal 6 ayat (1):
Perkawinan campuran dilangsungkan menurut hukum yang berlaku atas suaminya, kecuali izin para calon mitrakawin yang selalu diisyaratkan.
Pasal 7 ayat (2):
Perbedaan agama, golongan penduduk atau asal-usul tidak dapat merupakan halangan perlangsungan pernikahan.

Suatu Hari di Meja Makan

  • 1
Andai saja di meja makan itu aku mampu mengumbar rasa pada segenap insan yang berada di sana. Barangkali suara piring akan menjadi melodi yang harmoni. Aku sebenarnya di paksa gelas-gelas untuk menyapa mereka. melebur keheningan dengan sgelas air teh ang tangan bantu sandarkan senyum.


namun, kerja sehari-hariku mengkarat, masiih mengkarat dan memang sdang ku bersihkan. Do'amu berarti.


meja makan adalah bongkahan cinta. yang didalamnya kita hanya cukup membagi kasih kepada insan. Yang memasak adalah insan yang membat cinta itu dengan segenap rasa. Maka senyuman, berupa penetral rasa, saat asin mengeksploitasi sambal atau tumis kangkungmu. Harmoni senyuman di meja makan akan membuat dentingan sendok pada piring itu menjadi sebuah irama yang harmoni. 


sedangkan, diammu, ungkapan tanpa ekspresimu, khususnya cintamu pada nasi akan membuat dentingan itu terdengar sumbang. Dan nyanyian pagi kau awali dengan mendung awan di meja makan.


semoga hari kamis besok lebih bermanfaat, lebih tersenyum dan meretas gundah kawan-kawanku yang kurang sehat.

ICRP YOUTH CAMP 2013

  • 2
Menanggapi kasus-kasus diskriminasi yang belakangan ini terjadi di negara republik Indonesia, membuat sebagian kaum muda merasa tersentuh hatinya untuk segera bergerak mengangkat 'senjata' melawan penindasan.

Manusia, adalah makhluk sosial, maka semestinya melindungi hak-hak setiap manusia. Seperti hak untuk bersuara, hak untuk berfikir, hak untuk bertindak dan hak lainnya. Selain hak, manusia juga memiliki kewajiban untuk orang lain dan dirinya sendiri, yaitu kewajiban untuk menghargai suara orang lain, kewajiban untuk menghargai pendapat orang lain, dan kewajiban untuk menghargai tindakan orang lain. Jika hak dan kewajiban itu sudah menjadi budaya yang kita pegang dengan erat dalam benak dan fikiran, maka tidak akan ada konflik yang berarti. Dan barangkali itulah cita-cita setiap bangsa demokrasi.

Negara kita, Indonesia memiliki landasan yang sudah seharusnya ditancapkan dalam sanubari. Yaitu, Pancasila. Dalam pancasila memuat dasar-dasar dari apa yang seharusnya manusia Indonesia lakukan. Periketuhanan, perikeadilan, dll adalah sebuah jalan yang sudah ditawarkan Indonesia sebagai negara Bhineka Tunggal Ika.

Selain itu, dalam berbagai hal lain lebih dikhususkan dalam UUD. Dalam pelaksanaanya haruslah ada sebuah kerjasama yang intens antara masyarakat dan pemerintah. Sehingga setiap kebijakan tidak akan mendiskreditkan satu pihak, atau mengunggulkan satu golongan. Yang nantinya akan membuat negara Indonesia ini dipegang oleh satu golongan yang akan mendominasi dan mengikis hak serta kewajiban orang lain.

Seperti halnya kita lihat hari ini, ternyata memang untuk membentuk negara majemuk menjadi sebuah negara yang aman dan damai, serta menjalankan hak dan kewajiban memang sangatlah sulit. Banyak permasalah superioritas, ingin menjadi lebih unggul, sehingga terjadilah sebuah diskriminasi. Seperti halnya yang disoroti oleh sekelompok pemuda yang peduli akan bangsanya itu. Yang menyuarakan aspirasi dan menggugah hati pemuda lain, dengan jalan ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) Youth Camp dengan tema "Membangun Harmoni dalam Keberagaman, Merayakan Perbedaan".

ICRP Youth Camp dilaksanakan di sebuah Vihara Vipassana Graha, Lembang-Bandung. Dengan menghadirkan pemuda dari berbagai agama di Indonesia, Islam, Kristen, Hindu, Budha, Islam Syi'ah, Ahmadiyah, Baha'i, dan Sapta Darma. Semuanya berkumpul dalam satu ruangan, berbincang bersama, bekerjasama dalam sebuah permainan, dan acara yang diselenggarakan panitia. Canda tawa melebur menjadi sebuah harmoni, dan damai benar-benar ada dalam benak kami bersama.

Dan kami, berkumpul bukan tanpa alasan. Diskriminasi yang dialami kawan-kawan yang hadir di tempat itu yang membuat kami ingin menyamakan suara untuk melawan kekerasan sesama manusia. Seperti kasus yang dialami sahabat Syi'ah di Sampang. Dan kisah pilu yang dari keluarga HKBP Philadelphia yang mengalami kekerasan dari masyarakat. Yang akhirnya harus beribadah secara terbuka di pinggir jalan. Hal ini bukan tidak adanya tindakan dari HKBP Philadelphia, yang mana sebelumnya mereka sudah mengirim surat kepada bupati setempat untuk membuat surat izin tempat ibadah, namun sayang surat tersebut tidak digubris. Sampai puncaknya terjadi saat natal tahun lalu, mereka di hadang masa, dilempari telur busuk, air kotor dll.

Terkait dengan administrasi, hal serupa dialami oleh pemeluk agama Baha'i dan Sapta Dharma saat ingin membuat KTP. Hanya diakuinya enam agama yang ada di Indonesia, membuat pemuda ini harus pasrah menerima kolom isian KTP yang diisi tidak sesuai dengan kepercayaan yang dipeluknya, namun mengisinya dengan pilihan enam agama tersebut.

Jika hal ini kita alami, apakah kita tidak akan merasa didiskriminasi sebagai warga Indonesia, warga yang senantiasa akan memberikan sumbangan terhadap keragaman bangsa Indonesia. Pemuda adalah harapan bangsa, jika bangsa saja tidak mengakui, bagaimana bisa sumbangan hebat mereka diabaikan.

 Komisi III DPR RI, Eva Kusuma Soendari menyadari pula hal tersebut. Ia berkomentar bahwasanya telah diputuskan oleh MK bahwa negara tidak memiliki wewenang untuk menentukan agama resmi dan non resmi. Karena agama lebih dulu ada daripada negara. Dan ia pun merasa bahwa pencantuman agama dalam KTP merupakan sumber diskriminasi. Namun, jawaban simple diberikan oleh pemerintah bahwasanya ketika ada kecelakaan di tempat asing, jika tidak mengetahui agama apa yang dipeluknya bagaimana cara mengurusnya(?)

Kasus kekerasan tidak hanya disebabkan oleh hal ini, namun ada hal yang seringkali tidak tersentuh oleh kaum pluralis yaitu kaum fundamentalis. Gerakkan kaum fundamentalis adalah gerakkan yang sangat gesit. Kaum pluralis jangan sampai seperti menegakkan batang yang sudah tegak, namun kaum pluralis mestinya bisa lebih agresif menyebarkan value dan lebih sistematis. Hal yang sama dikemukakan oleh Basar Daniel Zefrie Tampubolon bahwa isu pluralis ini sudah clear adanya di kalangan kaum pluralis, yang mesti dihadapi adalah kaum fundamentalis. Jadi, mesti ada  satu hal yang mungkin bisa dilakukan bersama-sama. Seperti yang beliau lakukan yaitu mengangkat permasalahan bersama untuk diselesaikan bersama, namun bukan berupa hal yang akan menyinggung agama.

Dan satu alat negara yang sangat potensial untuk melakukan hal ini adalah pemuda. Maka, pluralisme haruslah dikenalkan sejak dini, agar terbentuk mental pemuda bangsa yang setuju dalam perbedaan. Untuk melakukan perubahan, Basar mengatakan bahwa kita harus mengenali potensi dan mengoptimalkan peran.

Proyek Pencerdasan Umat

  • 2
"Hayati  perKKNan kali ini" pesan dari salah seorang kakakku di Bandung. Pembicaraan ini masih sejalan lurus dengan perkataannya "ciptakan universitas di hati dan pikiranmu." ia maksudkan disini bahwa kita sebagai manusia yang memiliki kesempatan mencari ilmu, mesti melihat segala sesuatu dengan kacamata pengetahuan. Sehingga pun, ketika melihat suatu hal yang amat ganjil bisa diteliti lebih dalam, dengan kacamata ilmu pengetahuan.

Tempat KKN ku kali ini berada di sebuah daerah di Bandung, yang akupun tak menyangka ada tempat macam ini di Bandung. Aku pun menikmatinya seperti di kampung halaman sendiri. Pijakkan kaki ku kali ini ceritanya dimaksudkan sebagai sebuah kerjasama dengan pemerintah atas program kerja mereka, yaitu pengentasan buta huruf.

Ini adalah sebuah proyek pencerdasan umat. Maka, aku berharap perKKNan kali ini kita dibantu malaikat, semoga program ini tidak terlalu menjadi sebuah kesempatan untuk berduyun-duyun memakan hal yang tidak selayaknya dimakan. Tidak menjadi kesempatan bagi penjahat-penjahat yang cerdas, hingga ia tak merasa dirinya adalah penjahat. Serta, seperti do'a guruku, "semoga semua kelompok-kelompok manusia yang kita bimbing mnemukan kebenaran yang sejati dalam ilallah yang sesungguh-sungguhnya."

Niat awal perKKNan kali ini adalah harapan agar segera bisa mendapat gelar dan memakai toga. Yang orang bilang, lebih cepat lebih baik, tapi bukan itu alasanku. Karena alasan itu entah alasan keberapa setelah alasan masih senang berkumpul dengan teman-teman seperjuangan ceritanya. Namun, ada hal yang aku maksudkan, dan tidak terlalu penting jikapun aku menuliskannya disini. Dan bantu amini saja.. :)

Kehidupan di desa adalah kehidupan yang akrab bagiku. Kampung halamanku lebih desa daripada tempatku KKN. Namun, sepertinya disini agak lain ceritanya. Diceritakan bahwa di daerah ini banyak yang masih kurang mengenal aksara. Khususnya anak-anak, dan untuk dewasa lebih pada tahap lanjut pembacaan Al-Qur'an. Lebih jauh ku telusuri dari beberapa pembicaraan dengan warga kampung, aksara berhubungan dengan tulisan yang dipergunakan untuk membaca. Yang bisa lebih jauh pemahamannya adalah pembacaan akan sebuah situasi. Situasi yang ku maksud adalah penyeimbangan antara syukur dan pemberian. Sebab, dari cerita yang ku dengar, ketika menikmati hasil alam mereka seringkali lupa pada pengajian. Lupa, bahwa mereka akan "pulang" dan seperti yang dikatakan ibu yang bercerita "merenan bade megar etamah moal mulang".  Namun, semoga ini bukan hal yang sebenar-benarnya terjadi. Sehingga, dimanapun mereka berada bisa berpengajian.

Warga kampung disini mata pencaharian utamanya adalah berkebun dan beternak. Sehinggapun, ketika mereka memiliki anak, anak-anak mereka lebih diperkenankan untuk membantu memanen hasil pertanian mereka. Mencintai dan memberinya asupan yang lebih bergizi daripada untuk asupan mereka sendiri.

Maksudku, kesenangan mereka memelihara apa yang mereka miliki tak ubahnya seorang anak yang terlalu senang dengan permainan Pokker misalnya. Menumpukkan nilai hingga lupa apa ada hal yang telah dilupakan. Semisal, bagaimana pencipta Pokker bisa menciptakan suatu permainan yang luar biasa membuat penasaran dan menarik. Begitupun pemilik perkebunan, ternak dan sawah disini. Terlalu asik dengan permainan dunia yang teramat sangat hijau. Barangkali akupun bakal begitu, jika menempati posisi seperti mereka. Tapi aku tak diberi kesempatan itu, dan di tunjuk untuk menyaksikan mereka. Yang selanjutnya Tuhan serahkan semua itu kepadaku, apa yang mesti aku kerjakan dan apa tindakan yang aku kerahkan. Apa hanya berkomentar, menjadi penyaksi saja. Atau mencoba seperti para aktifis memberikan mereka sebuah jalan yang kita tau itu bakal lebih baik. Maksudku lebih baik, bisa mencerdaskan, meminimalisir penjajahan kembali  dari sebuah kecerdasan di luar sana. Meskipun ketahanan untuk tidak dijajah masih belum teruji dalam diri kami.

Hijaunya alam dan pemberiannya menurut salah seorang warga tak mampu menciptakan mesjid dalam kehidupan mereka. Segala tempat adalah mesjid, mesjid yang kita tahu adalah tempat ibadah. Maka, kita bisa fahamai segala tempat adalah mesjid, karena tak ada batasan tempat untuk kita mengingat Tuhan. Sehinggapun saat pengajian rutin ibu-ibu sandal di luar mesjid hanya beberapa pasang saja, jikapun di hitung tak sampai sepuluh pasang sandal. Sebab, sandal mereka pergunakan untuk berjalan memamah alam dan pemberiannya. Barangkali mereka lebih merasa "pengajian" dengan pergi ke kebun, barangkali mereka lebih merasa "pengajian" dengan memetik hasil alam, barangkali, dan semoga saja tak meleset. Amin.

JIka Masih Bisa Dibicarakan...

  • 1
Mengenang cerita dari sahabatku waktu itu, dia bukan orang parlente tapi bisa menjadi orang parlente. Cuek dan menghadapi segala hal dengan santai sampai kadangkala menjadi sesal.

Beberapa bulan yang lalu dia menikam hati seorang gadis, dan gadis tersebut  jatuh hati. Namun, beberapa bulan dia menjalani kisah cintanya tak pernah dia merasakan nyaman. Mungkin, karena masih terpaku pada satu sosok, sahabat perempuanku.

Pemuda itu  sering bercerita tentang gadis itu di depan warung dekat kampus. Miris, ketika pertama-tama aku mendengar ceritanya. Dia, kadangkala berkata ingin mengakhiri hubungan dengan gadis itu. Karena, ya itu tadi, dia masih terpaku pada sosok gadis yang menjadi sahabatku.

Kegelisahan, dia sampaikan dengan segala hal. Mungkin dia terkejut  dengan segala yang gadis itu berikan, dengan segala kebiasaan yang sudah sering dia lakukan. Jika memang tidak sanggup, aku menasehatinya, untuk bertahan beberapa minggu, dan jika sudah mampu seminggu dicoba beberapa minggu lagi. Dan mungkin dia melakukannya.

Ceritapun lain, kemarin aku dengar dari orang itu. Dia mengatakan kalau tak ada nama lain selain gadis itu. Dan itu, disebabkan karena dia pernah merasa kehilangan sejenak gadis itu. Tak ada ikatan, bahasa percintaannya, putus.

Dan, hal itu menyadarkan si pemuda  merasakan kehilangan gadis itu. Tak ada hal lain yang merasa dia membuat jenuh selain kehilangan gadis itu. Aku tafsirkan saja seperti itu.

Ikatan dalam sebuah hubungan bukanlah suatu hal yang bisa dirasakan secara sejenak. Mementingkan ego masing-masing. Pemuda itu berkata, kalau segala hal masih bisa dibicarakan, kenapa tidak dengan jalan damai.

Aku yakin dia mengamalkan ilmu yang dia peroleh dari kuliahnya Perbandingan Agama. Dialog adalah suatu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan apalagi percintaan. Kita semua ada dalam ikatan percintaan. Pembelaan pada negara adalah sebuah kecintaan.

Ketika suatu kelompok ingin menegakkan negara Islam di Indonesia, itu adalah sebuah dasar dari kecintaan kelompok tersebut kepada negara Indonesia yang diyakini bisa harmonis dan selamat dengan adanya label islam. Ya, selain kepentingan pragmatis juga.

Ketika suatu ormas ingin membubarkan segala hal yang keluar dari kapasitas islam, hal itu juga barangkali ada sebuah kecintaan terhadap agama islam yang akan tercemar dengan perilaku-perilaku keislaman yang membuat agama islam menjadi, bisa ditafsirkan 'kotor'.

Kekerasan, yang sekarang ini muncul ketika kita mendengar kata kelompok tersebut. Hal ini disebabkan karena banyak ketimpangan yang dirasakan ketika ormas tersebut melakukan aksinya. Ada yang kurang benar, dan mungkin tidak tepat sasaran.

Dialog dalam hal ini seharusnya dilakukan. Karena bagaimapun juga, ketika ada warga yang membuka warung pada saat bulan ramadhan pada siang hari, hal itu bisa saja ada hal lain yang melatar belakangi orang tersebut membuka warung. Ya, bisa saja orang tersebut tidak memeluk agama Islam. Kemudian apa salahnya ketika orang tersebut membuka warungnya, namun dia tetap berpuasa.

Saat perkuliah hal ini tidak lepas dari perbincangan beberapa dosen. Salah satunya pak Julian, dosen yang berpendirian teguh, yang membiarkan adik kelasnya menyandang gelar doktor duluan. Perkataannya menarik, ketika memperbincangkan tentang puasa dan membuka warung saat puasa. Dia mengatakan, membuka warung bukanlah suatu hal yang perlu diperdebatkan. Orang Islam, pada bulan puasa adalah orang yang sedang diuji dalam segala hal. Maka, warung pun merupakan salah satu ujian untuk bulan puasa.

Maka, ketika ada orang yang melarang membuka warung saat puasa, bukannya hal itu malah manandakan bahwa iman orang islam itu sangat rendah?

Bukannya di negara Indonesia yang pada siang bulan ramadhan yang tidak makan itu hanya orang-orang Islam?

Ah, sudahlah, mari berlomba-lomba dalam "melakukan."

Gus Miek, salah satu tokoh yang kontroversial dan orang kyai yang mampu keluar dari mainstream kiai pada umumnya. Yang saya tahu, kyai pada umumnya adalah orang yang selalu berkutat dengan pesantren. Dengan segala hal yang berbau suci. Tapi Gus Miek lain, beliau menjejakki diskotik-diskotik dan bromocorah-bromocorah. Dan beliau berdakwah. Sehingga gelar kyai sesat tercoret di namanya.


Satu lagi, yang bisa kita petik dari cerita sahabat saya itu adalah jangan gampang mengambil keputusan ketika ego sedang dalam kegelisahan. 

Mencicipi Perdamaian

  • 0
http://rscj-indonesia.org/

"mencicipi perdamaian" ya, kata itu yang terakhir kali diucapkan suster Jera di suatu siang yang seperti tanpa kabut itu. Di ruangan berwarna kuning, dengan lampu menyala kerlap-kerlip seperti anak kecil sedang bermain, diatas pohon cemara kecil berwarna hijau. Serta beberapa buah kado yang berhasil membuat hati kami berdebar-debar saat melihatnya.

Ini bukan sebuah cerpen, atau apapun yang orang sebut sebagai sebuah cerita. Tapi ini benar terjadi pada hari itu, hari kamis tanggal 28 Desember disebuah jalan Ambon no.25. Disana ada sebuah biara yang dihuni oleh kurang lebih 12 orang wanita. Atau mungkin kurang, ya ini masalah ingatan saja.  Seperti saat lebaran, hari itu bau natal masih tajam dan saatnya orang-orang saling berkunjung satu sama lain. Dan pada kesempatan itu, kami datang kesana atas nama jurusan Perbandingan Agama.

Perdamaian adalah cita-cita seluruh bangsa, berbagai organisasi, dan berbagai individu. Namun, seringkali ketika melihat pertengkaran disuatu tempat, kata itu seolah hanya sebuah hayalan dan gumam seorang yang sedang berimajinasi.

Tempat itu bernama RSCJ (Religieuse du Sacre Coeur de Jesus)  atau lebih enak disebut dalam bahasa Indonesia Kongregasi Hati Kudus Yesus. Entah apa kata yang tepat untuk menyebutkan kata tersebut. Tapi saya lebih senang menyebutnya dengan nama biara.

RSCJ adalah salah satu tarekat Kristen Katolik, mereka sudah hadir di beberapa wilayah di Indonesia, di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan di Bandung. Seperti halnya Islam, tarekat yang mereka jelaskan kepada kami siang itu, merupakan jalan untuk mendapat Kasih Tuhan.

Biara adalah tempat menampung orang-orang yang menyerahkan diri dan berjanji  untuk mengabdikan diri kepada Tuhan, dan mengikuti jejak kaki Tuhan. Ini ditempuh oleh perempuan disana dengan beberapa jalan.  Diantaranya untuk 3-6 bulan pertama, mereka akan diminta suatu pernyataan siap atau tidaknya. Ketika siap, maka pengajaran mereka akan dilanjutkan. Setelah itu, mereka akan diberi gelar pra postulan untuk beberapa bulan. Sehingga akhirnya mereka akan menjadi postulan.

Sambutan hangat dan kue tart yang manis adalah kesan pertama yang sangat manis. Lagu-lagu bergema di ruangan, serta tawa tak bisa kami sembunyikan. Hal itu juga tidak mengganggu kekhusuan kami saat shalat di kapel salah satu ruangan tersebut.

Ini bukan perayaan natal, ini sebuah pertemuan keluarga yang hangat. Ruangan tempat menyimpan kado-kado itu menjadi akhir perjumpaan kami yang sangat hangat. Pesan kesan berhamburan dari seluruh hati. Sebuah perdamaian yang sejati, dan menjadi harapan bagi seluruh generasi. Ini hanya sedikit saja, dan mudah-mudahan bisa menjadi awal bagi semuanya..

JURNALISME DAN PLURALISME

  • 0
Sabtu, 29 September 2012 Flads (forum lintas agama deklarasi Sancang) dan Kompas, menyelenggarakan  pelatihan jurnalistik. Acara tersebut dilaksanakan di GKI Maulana Yusuf dan dihadiri oleh berbagai umat lintas iman.

Ketika mendengar kata Kompas, yang diharapkan pasti pemateri para senior-senior kompas yang tulisan-tulisannya sudah tidak bisa diragukan lagi. Ya, dan memang seperti itu, pemateri yang hadir waktu itu adalah Kang Pepih (admin kompasiana), mbak Chris (redaktur kompas kampus), om Tony (editor artikel), dan mas lupa lagi siapa. Pertemuan  yang mungkin bisa dibilang langka dengan kesibukan yang mereka jalani.

Yang lebih menarik disini, bukan hanya pelatihan jurnalistiknya. Namun, bisa kita amati lebih dalam dari pelatihan. FLADS sebagai forum lintas agama telah membuat konsep yang menarik dalam mempertemukan beragam agama. Kenapa menarik? karena disini, kegiatan tidak hanya dihadiri oleh umat kristen saja. FLADS, mengundang peserta khusus dari berbagai macam agama yang ada di Indonesia, termasuk  aliran Ahmadiyah. Ketika saya melihat hal tersebut,  di gereja itu seperti sebuah miniatur negeri, dengan kedamaian yang didambakan oleh setiap manusia.

Teh Ai, Sekretaris FLADS mengatakan "setelah kita berwacana, maka kita harus melakukan diskusi dan setelah itu aksi" ungkapnya ditengah perjalanan pulang.

FLADS bisa memberi kita contoh dalam hal ini, secara tidak langsung acara tersebut mempertemukan keberagaman dalam satu gereja. Sumber Daya Manusia yang ada dalam gereja tersebut mungkin bisa kita katakan sebuah miniatur negeri indonesia. Negeri yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama.
Miniatur tersebut hendaknya bisa dijadikan perenungan kembali, dimana ketika kita mempunyai niat yang sama, satu tujuan yang sama, walaupun kita berbeda dalam hal kepercayaan, itu bukanlah hal yang harus dipermasalahkan. Bambang Q  Anees juga pernah mengatakan, ketika duri dijalan, dia tak akan menusuk orang muslim saja atau orang agama selain islam saja. Ketika menyakiti, duri tidak akan pernah memandang siapa yang akan dia sakiti. Kemudian Cak Nun pernah juga mengatakan bahwa kita beragama sebenarnya harus belajar pada alam.

Cak Nun pernah mengatakan bahwa teologinya masing-masing saja, tapi budayanya bisa dipersamakan. Seringkali kita melupakan masalah sosial yang memang dan mempersoalkan masalah teologis yang senantiasa membuat semakin banyak konflik berkembang.

Budaya dalam hal ini, bisa kita terapkan pada pelatihan-pelatihan seperti ini, atau diskusi-diskusi lain yang melibatkan sumber daya lintas agama. Namun perlu ditekankan sekali lagi, bukan untuk memperdebatkan masalah teologis.

Karena fanatisme mungkin disebabkan karena sejarah yang tersusun sedemikian rupa, sehingga membentuk sebuah dogma yang berbeda. Antar agama pun bisa mendapatkan representasi yang berbeda dalam memahami sejarah ini. Sehingga, akan sulit untuk mempersatukannya, dan barangkali suatu kemustahilan.

Cak Nun juga mengatakan bahwa ranah teologis adalah ranah pribadi yang tidak mungkin bisa dipersamakan. Jika kita representasikan dalam diri, ranah teologis adalah ranah kemaluan yang sangat diyakini bahwa itu semua kita punya dan kita akan malu jika kita tunjukan kepada orang lain.

Perbandingan Agama di Dukuh Paruk

  • 0
Novel itu seperti oase di atas keringnya tenggorokan yang dahaga. Namun,  tidak semua, dan... pahami sajalah kamu pasti mengerti.

Seorang novelis, hmm  saya lebih senang menyebutnya seorang seniman, karena Pram juga pernah mengatakan bahwa seorang penulis adalah seorang seniman dalam bentuk tulisan. Novelis adalah orang yang bisa berposisi menjadi apapun. Dia bisa menjadi sejarawan seperti Pram;  bisa menjadi filsuf seperti Justein Gardeer, pengarang Dunia Sophie ;dan  Ahmad Tohari, dia  antropolog dalam novelnya ini. Dan yang pasti kepekaan perasaan seorang novelis tercermin dari kata demi kata yang tercurah dalam karyanya itu. Serta editor itu,,, terimakasih saya ucapkan.

Tak perduli halnya walaupun seorang novelis itu sudah menulis berpuluh-puluh novel, namun isinya kurang memuaskan. Tohari, pernah saya tahu dia memposisikan karya itu sebagai janin. Karya itu seperti sebuah janin yang dibentuk berlama-lama dalam perut yang akhirnya akan dilahirkan, dan jadilah seorang anak. Agar anak sehat, dan tidak cacat maka (hal yang tidak sepenuhnya saya tahu dalam hal ini) merawat janin itu agar bisa melahirkan dengan kebanggaan. Sehingga semua orang bisa menjadi ibu. Adalah suatu kepuasan tersendiri ketika sebuah janin keluar. Ah saya hanya mendengarnya seperti itu, mungkin tidak sebenar-benarnya demikian, tapi kebanyakan yang saya dengar dan terfikirkan adalah seperti itu.

Mungkin ini adalah sebuah pengejawantahan perkataan Galah, ketika menulis tidak bermanfaat bagi orang lain dan hanya mengungkapkan perasaan-perasaan psikologis saja. Urungkan dulu sajalah.

Beberapa pertemuan mata kuliah fenomenologi agama dan beberapa lembar buku yang dibaca, ternyata menurut saya fenomenologi yang lebih mudah diterapkan adalah dalam sebuah karya novel. Fenomenologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari sebuah fenomena-fenomena yang terjadi dalam diri seseorang, bedanya dengan psikologi? Entahlah anda bisa mencari sendiri.

Jadi, sebuah Epoche, Reduksi dan Intensionalitas bisa diterapkan pada penulisan novel. Kalau saja saya tahu Hursell membuat suatu novel, bukan tulisan ilmiah, dan saya bisa membacanya. Mungkin saya tidak akan pusing bagaimana fenomenologi itu tepatnya diterapkan. Karena, sampai saat ini, sepanjang yang saya fahami, metodologi itu selalu dituliskan dalam hal-hal yang berbau ilmiah. Ah, ilmiah lagi-lagi.

Tohari, tak akan sembarangan pula dia menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, jika dia tidak pernah melakukan penelitian terlebih dahulu. Bisa saja, ketika dia membicarakan hutan, dia pernah merasakan atau mungkin mencari tahu keadaan jiwa orang yang sedang tersesat di hutan dengan keadaan kaki yang amat sakit. Begitupun peran seorang ronggeng srintil. Tohari, menggambarkan keadaan ronggeng Srintil dengan sangat teratur. Nafas yang dikeluarkan Stintil, dia terjemahkan kedalam bahasa yang bisa dibaca oleh perasaan pembaca. Teratur dan sangat alami.

Jika dillihat dari fenomenologi agama, ini adalah semacam Epoche. Epoche ini, diberlakukan dimana objek disuruh berbicara sendiri. Ya, saya faham, namanya novel itu subjektifitasnya penuh. Tapi lagi-lagi tidak mungkin Tohari menggambarkan Srintil, kalau dia tidak pernah melakukan sebuah penelitian tentang perasaan seorang ronggeng.

Mahasiswa Perbandingan Agama tidak melulu harus membaca buku-buku ilmiah sepertinya. Novel itu 
lebih bermasyarakat, memasyarakat mungkin lebih tepatnya. Dalam novel Tohari, kita juga bisa menemukan, bagaimana faham animisme sebenarnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang yang memahaminya, dan juga orang sekitar yang menanggapinya. Menarik, sangat menarik, cobalah kamu lakukan.

Saya sangat suka pada tulisan Tohari yang ini "Dukuh Paruk yang merupakan sebuah desa, lengkap dengan kemelaratannya, kecabulannya tetapi lugu dan sejati". Disini Tohari menggambarkan desa Dukuh Paruk dengan lembut, dan anggun.

Tohari, disini merepresantasikan sebuah keadaan yang memang bakal terjadi pada setiap desa. Desa, dengan segala keluguan dan kesejatiannya itu tetap akan dikeruk zaman. Kita bisa mentransformasikannya pada saat ini, dimana keasrian desa harus disundul dengan kepentingan orang-orang yang akan membangun proyek. Ya, proyek, bukan tempat ibadah. Karena jika tempat ibadah, apalagi kaum minoritas, akan ditentang oleh warga kaum mayoritas.




Dan Srintil, seorang ronggeng Dukuh Paruk yang menjadi anak kandung dari keluguan alam dan kehidupan. Dia hidup atas dasar kepercayaan menjalani alur cetak biru seorang ronggeng.  Namun disini juga srintil yang memegang peranan penting dalam cerita novel ini. Srintil, menjadi titik sentral dimana kehidupan dukuh paruk menjadi lebih berwarna dan bernafas.

Sama halnya seperti artikel yang pernah saya baca di kompas.com suatu hari, namun maaf lupa siapa penulisnya. Artikel itu tentang novel Bumi manusia Pram, dimana penulis mengatakan bahwa peran nyai Ontosoroh dalam kehidupan Minke (tokoh utama dalam novel Pram) sangat berpengaruh terhadap dirinya. Nyai Ontosoroh adalah orang yang mampu mendorong Minke lebih mengerti kehidupan yang sebenarnya harus dijalani. Karena bukan hanya keperempuanan Ontosoroh saja Minke bisa seperti itu. Jika dilihat, Ontosoroh adalah perempuan yang teguh pendirian dan tegas. Dia pasti punya prinsip yang diikatkan pada pinggangnya dengan erat.

Memang saya lihat setiap membaca karya-karya Pram, dia seringkali mengedepankah Perempuan. Bahkan saya salut ketika membaca buku pram yang berjudul "Perempuan dalam cengkraman militer". Dalam buku itu, Pram berusaha mencari perempuan-perempuan yang terdampar di hutan. Yang berusaha melarikan diri, atau dibuang dari cengkraman militer Jepang. Menarik, bacalah.