lemon tea (Jogja part 1)

  • 3

jogja...oh jogja, kota yang terletak di Jawa Timur ini, mempunyai lirikan tersendiri buatku, kotanya orang Jawa ini, selalu membuatku rindu, bukan rindu sebenanrnya sih, tapi ingin bertemu. karena kalaupun bertemu cuma numpang ngikut jalannya doang ... hufft
berkat jurusan yang selalu always tak pernah never melewatkan acara-acara besar agama besar di Indonesia, aku dan semua teman satu jurusan bisa pergi ke kota Gudeg jogja ini, kalau menurutku bukan kota Gudeg sih, tapi kota "brem"( tahu kan makanan yang terbuat dari tape?) kalo enggak " bakpia"(kue yang isinya bermacam-macam, dan bentuknya seperti bakpau, tapi ukurannya sangat kecil) karena sasaran utamanya kebanyakan "brem" dan "bakpia".

berangkat dari kampus jam 3 sore menuju stasiun padalarang, perjalanan ke padalarang ditempuh dengan menggunakan kendaraan tradisional khas kota namanya “angkot”, dengan hanya merogoh kocek Rp.7500. apa? “hanya”?... iya “hanya” kan jarak dari cibiru ke padalarang cukup jauh lah.
Selama perjalanan ditempuh dengan keadaan yang lumayan lancar, berkat jalan bebas hambatan “ Tol”. Hmmm tapi ternyata jalan tol juga gak bebas hambatan lho, sepanjang perjalanan, disisi kiri dan kanan terhampar kebun-kebun yang rindang, depan mobil melaju dengan santai, di belakang mobil sedang menatap dengan penuh penderitaan. Tapi bukan itu yang menjadi hambatannya teman, hampir sepanjang perjalanan, selalu disuguhi aroma yang sangat tidak sedap, ku yakin bukan aroma angkot yang tidak pernah dimandiin sama tukang angkotnya, apalagi aroma tubuh penumpang, justru itumah penawar (hehe pede dot com). Tapi sepertinya aroma yang masuk ke dalam angkot adalah aroma sampah-sampah yang berserakan dipinggir jalan. Huffft
Angkot berhenti di sebuah tempat yang sangat ramai dan kotor, ku kira bukan itu yang namanya stasiun karena disana lebih mirip pasar dengan segala tetek bengeknya. Di depan stasiun sudah tampak kereta-kereta tua yang menunggu pelanggan dengan sabar, merundukan kepala dan istirahat. Menampakan usia yang sudah tidak muda lagi, karat-karat sudah seperti uban yang menggelayuti tubuhnya.
Gerbong C, kita memilih tempat di gerbong C yang masih sangat kosong, hanya beberapa orang pria muda dan ibu yang membawa seorang anak gadis, dengan leluasa kita mengambil tempat yang berdekatan. Pokoknya 27 orang gak boleh ada yang pisah. Menunggu kereta melaju, kita masih hilir mudik di atas gerbong yang renta itu. merasakan setiap jengkal tubuhnya. Dan sangat nyaman ternyata. Semakin malam kereta mulai dipenuhi orang-orang.
Kegaduhan dan canda mulai di asah oleh manusia yang berjumlah 27 orang ini. Nyanyi-nyanyi, joget-joget, gak peduli ada yang merhatiin atau enggak. Seorang wanita cantik membawa kumpulan anjing dengan menggantungnya ditali rapia, sadis, eh tapi tidak juga karena itu hanya boneka anjing pudel. Senyum wanita yang menawan itu, dipancarkan dengan ketulusan agar orang-orang bisa berminat membeli anjing pudel bawaannya. Anak-anak lelaki rombongan kita mulai beraksi, lirik atas bawah dengan pujian-pujian tengil dari mulut mereka, namun sudah bisa ditebak, tak ada satupun dari mereka yang berminat membeli.
Pengamenpun bermunculan dari mulai suaranya yang sumbang sampai yang mirip artis, dan ada juga yang rame banget, dengan alat music yang beragam sudah bisa ditaksir mereka dari kalangan mahasiswa. Suara mereka merdu dan teratur serta alat-alat musiknya pun lihai mereka mainkan. Mengajak struktur tubuh kompak bergerak.
Sudah 3 jam kereta melaju diatas rel, dengan berbagai macam tukang dagang pula, tak terasa juga. Tapi sebagian dari kami masih ada yang dengan kuatnya mempertahankan kehebohan, dengan berbagai macam permainan. Seperti terbebas dari penjara akademis semuanya di keluarkan dalam kereta waktu itu.
Semakin lama…dan semakin lama… pantat mulai meronta-ronta ingin mendapat tempat yang selayaknya, ingin berdiri. Namun apalah daya disisi kanan kiri orang-orang dengan lelapnya tidur. Ditahan lah rasa lelah itu,sampai saatnya tiba di stasiun Lempuyangan, stasiun terakhir yang kita tuju untuk sampai di Jogja, dengan waktu 12 jam, duduk disebuah gerbong kereta, sangat memuaskan, dengan oleh-oleh pantat yang tepos. Turun dari kereta ternyata kita mendapat sambutan hangat dari para penumpang, yang biasanya cuek bebek, mereka mengucapkan salam perpisahan buat kita, dan do’a. subhanallah… jadilah mahasiswa yang baik agar mereka sudi mendoakan kita teman, hmmm apa karena memang kita paling gaduh ya di kereta. hehe
Cerita di Jogjanya di tangguhkan dulu,,,, langsung ke cerita perpulangan, tapi buka berarti kita datang ke Jogja langsung di usir, enggak lah, anak-anak bermuka manis seperti kita mana ada yang mau ngusir.
3 hari 4 malam kalau gak salah kita di bandung dari malam senin sampai pulang malam kamis, kita sudah menuju ke stasiun lempuyangan lagi setelah puas belanja di malioboro. Menunggu kereta dengan sabar, dengan narsis-narsisan di tempat untuk naik kereta. 2 kereta sudah lewat, ternyata masih bukan tujuan bandung, tak sabar ingin menikmati tidur di kereta setelah bercapek-capek ria di Jogja. Akhirnya kereta menuju bandung pun sampai, kita mulai siap-siap. Kereta pun berhenti, berlarian kita mencari pintu, pintu yang dituju utama adalah pintu gerbong terakhir yang masih tertutup dan gelap. Ternyata sulit masuk makanya lari lagi ke gerbong sebelahnya, ibu-ibu dan anak-anak megap-megap masuk ke pintu kereta yang sempit. Penuh dan sesak kita putuskan lari lagi ke gerbong sebelahnya, masuklah kita dengan badan berhimpitan, seperti gajah yang masuk kulkas, dipaksakan masuk, apapun yang terjadi asalkan kita bisa bareng dan gak ketinggalan kereta. Akhirnya dengan dipaksa semuanya masuk, hanya beberapa orang yang terpisah dan masuk di gerbong lain. Di setelah masuk keadaan kereta sangat sempit dengan jubelan orang-orang. Semakin kita ke gerbong belakang, nenek tua yang sedang berdagang pun merasakan penderitaan terhimpit beribu orang. Kasian, tapi aku juga tak bisa menolong diriku sendiri. Akhirnya menemukan tempat yang lumayan kosong, tapi tetap saja tak dapat tempat duduk. Dengan keadaan yang memprihatinkan kita duduk di sela-sela kursi menatap orang-orang yang duduk di kursi sungguh iri, inget waktu pertama kita berangkat. Huffft.
Ternyata di belakang masih banyak orang yang berjubelan, akhirnya kita dipaksa didorong lagi ke gerbong paling belakang. Terus-dan terus ke belakang. Hingga akhirnya kita sampai di gerbong yang kosong tadi, dan ternyata gerbong kosong itu memang kosong, kosong dengan kursi namun penuh dengan penumpang. Aah gila, gerbong itu gelap mirip gua, setelah mendapat tempat duduk di belakang, kita duduk layaknya orang yang rumahnya telah mendapat bencana, mengkhawatirkan. Tapi aku sendiri yang merasakannya, ini adalah pengalaman pertamaku naik kereta dengan segala senang sedih, dari awal yang senang menuju akhir yang sedih banget, tapi aku menganggapnya kesenangan dan keistimewaan naik kereta. Asap rokok mengepul dari kanan kiri, menyebalkan tapi disana tak ada larangan untuk tidak merokok, duduk tanpa alas di depan para laki-laki yang sudah lebih awal duduk di gerbong gelap itu. nyaman lah sudah kita duduk di gerbong itu, kantuk mulai melanda. Bingung banget cara tidurnya gimana, mau nungging banyak cowok di belakang, namun semakin jauh kereta melaju semakin diabaikan lah rasa takut itu,karena mereka pun semua tertidur. Aku menatap keluar jendela, melihat rindangnya pohon yang berjalan, dan seorang laki-laki manis di depanku. Akhirnya ku tertidur dengan memeluk tas hitamku, dan kaki tertindih temanku. Huffft sungguh menyedihkan.

3 komentar:

  1. aku jadi ikut merasakan apa yg kamu rasakan dalam tulisan ini.

    BalasHapus
  2. kenangan yang takkan pernah terlupa. it's very interesting, seharian di candi, mpe bingung mau ngapain, cuma lihat orang komat-kamit ngucapin mantra ajah. hehe...

    BalasHapus

Mari berbagi pengalaman dan fikiran untuk terus belajar... :)