JIka Masih Bisa Dibicarakan...

  • 1
Mengenang cerita dari sahabatku waktu itu, dia bukan orang parlente tapi bisa menjadi orang parlente. Cuek dan menghadapi segala hal dengan santai sampai kadangkala menjadi sesal.

Beberapa bulan yang lalu dia menikam hati seorang gadis, dan gadis tersebut  jatuh hati. Namun, beberapa bulan dia menjalani kisah cintanya tak pernah dia merasakan nyaman. Mungkin, karena masih terpaku pada satu sosok, sahabat perempuanku.

Pemuda itu  sering bercerita tentang gadis itu di depan warung dekat kampus. Miris, ketika pertama-tama aku mendengar ceritanya. Dia, kadangkala berkata ingin mengakhiri hubungan dengan gadis itu. Karena, ya itu tadi, dia masih terpaku pada sosok gadis yang menjadi sahabatku.

Kegelisahan, dia sampaikan dengan segala hal. Mungkin dia terkejut  dengan segala yang gadis itu berikan, dengan segala kebiasaan yang sudah sering dia lakukan. Jika memang tidak sanggup, aku menasehatinya, untuk bertahan beberapa minggu, dan jika sudah mampu seminggu dicoba beberapa minggu lagi. Dan mungkin dia melakukannya.

Ceritapun lain, kemarin aku dengar dari orang itu. Dia mengatakan kalau tak ada nama lain selain gadis itu. Dan itu, disebabkan karena dia pernah merasa kehilangan sejenak gadis itu. Tak ada ikatan, bahasa percintaannya, putus.

Dan, hal itu menyadarkan si pemuda  merasakan kehilangan gadis itu. Tak ada hal lain yang merasa dia membuat jenuh selain kehilangan gadis itu. Aku tafsirkan saja seperti itu.

Ikatan dalam sebuah hubungan bukanlah suatu hal yang bisa dirasakan secara sejenak. Mementingkan ego masing-masing. Pemuda itu berkata, kalau segala hal masih bisa dibicarakan, kenapa tidak dengan jalan damai.

Aku yakin dia mengamalkan ilmu yang dia peroleh dari kuliahnya Perbandingan Agama. Dialog adalah suatu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan apalagi percintaan. Kita semua ada dalam ikatan percintaan. Pembelaan pada negara adalah sebuah kecintaan.

Ketika suatu kelompok ingin menegakkan negara Islam di Indonesia, itu adalah sebuah dasar dari kecintaan kelompok tersebut kepada negara Indonesia yang diyakini bisa harmonis dan selamat dengan adanya label islam. Ya, selain kepentingan pragmatis juga.

Ketika suatu ormas ingin membubarkan segala hal yang keluar dari kapasitas islam, hal itu juga barangkali ada sebuah kecintaan terhadap agama islam yang akan tercemar dengan perilaku-perilaku keislaman yang membuat agama islam menjadi, bisa ditafsirkan 'kotor'.

Kekerasan, yang sekarang ini muncul ketika kita mendengar kata kelompok tersebut. Hal ini disebabkan karena banyak ketimpangan yang dirasakan ketika ormas tersebut melakukan aksinya. Ada yang kurang benar, dan mungkin tidak tepat sasaran.

Dialog dalam hal ini seharusnya dilakukan. Karena bagaimapun juga, ketika ada warga yang membuka warung pada saat bulan ramadhan pada siang hari, hal itu bisa saja ada hal lain yang melatar belakangi orang tersebut membuka warung. Ya, bisa saja orang tersebut tidak memeluk agama Islam. Kemudian apa salahnya ketika orang tersebut membuka warungnya, namun dia tetap berpuasa.

Saat perkuliah hal ini tidak lepas dari perbincangan beberapa dosen. Salah satunya pak Julian, dosen yang berpendirian teguh, yang membiarkan adik kelasnya menyandang gelar doktor duluan. Perkataannya menarik, ketika memperbincangkan tentang puasa dan membuka warung saat puasa. Dia mengatakan, membuka warung bukanlah suatu hal yang perlu diperdebatkan. Orang Islam, pada bulan puasa adalah orang yang sedang diuji dalam segala hal. Maka, warung pun merupakan salah satu ujian untuk bulan puasa.

Maka, ketika ada orang yang melarang membuka warung saat puasa, bukannya hal itu malah manandakan bahwa iman orang islam itu sangat rendah?

Bukannya di negara Indonesia yang pada siang bulan ramadhan yang tidak makan itu hanya orang-orang Islam?

Ah, sudahlah, mari berlomba-lomba dalam "melakukan."

Gus Miek, salah satu tokoh yang kontroversial dan orang kyai yang mampu keluar dari mainstream kiai pada umumnya. Yang saya tahu, kyai pada umumnya adalah orang yang selalu berkutat dengan pesantren. Dengan segala hal yang berbau suci. Tapi Gus Miek lain, beliau menjejakki diskotik-diskotik dan bromocorah-bromocorah. Dan beliau berdakwah. Sehingga gelar kyai sesat tercoret di namanya.


Satu lagi, yang bisa kita petik dari cerita sahabat saya itu adalah jangan gampang mengambil keputusan ketika ego sedang dalam kegelisahan. 

1 komentar:

  1. benar, jangan terlalu mementingkan ego sepertinya.

    BalasHapus

Mari berbagi pengalaman dan fikiran untuk terus belajar... :)